Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

02 Januari 2009

Balaikota Medan yang terletak di depan Lapangan Merdeka Medan kini sering disebut sebagai titik nol Kota Medan. Letaknya yang tepat di jantung Kota Medan menjadikannya sebagai landmark kota ini. Tapak tanah tempat berdirinya Balaikota Medan sekarang, merupakan lahan hutan dibuka pertama kalinya oleh Guru Patimpus, 1 Juli 1590 yang dikenal sebagai areal “Kampung Medan”. Kemudian mengapa lapangan yang berada di seberang bangunan balaikota dinamakan Lapangan Benteng, juga mengapa adanya keberadaan Wisma Benteng? Karena memang di areal delta tempat bertemunya dua aliran sungai, yakni Sungai Deli dan Sungai Babura, dulunya oleh Belanda dibangun benteng (loji).

Bangunan benteng dengan bagian depan menghadap ke jembatan Jalan Raden Saleh – sekarang menjadi bagian dari pasar swalayan Grand Palladium.Terakhir ba-ngunan benteng ini dikelola bagian Peralatan Daerah Militer (Paldam) Bukit Barisan hingga tahun 1960-an. SZedangkan di tapak tanah Balaikota Medan sekarang, dulunya merupakan gedung Dinas Kesehatan Daerah Militer (Diskesdam) Bukit Barisan. Semen-tara di bagian belakangnya, hingga ke pinggiran delta dua aliran sungai kompleks perumahan perwira menengah (Pamen).


Pada bagian dalam bangunan benteng (loji) sekarang, menjadi bangunan Wisma Bednteng – sebagai pengganti Balai Prajurit yang sekarang Bank Central Asia (BCA) di Jalan Bukit Barisan depan Kantor Pos Besar Medan mengarah ke stasiun. Sedangkan di bagian dalam benteng dulunya menjadi komunitas hunian warga Maluku asal Ambon yang diduga sebelumnya mereka anggota KNIL Belanda.

Itu sebabnya, di sekitar Lapangan Benteng hingvga akhir tahun 1960-an meru-pakan komunitas militer. Di sudut Jalan Kejaksaan dan Jalan Maulana Lubis pernah menjadi markas Corps Polisi Militer (CPM) yang kemudian pindah ke Jalan Jenderal Soeprapto. Pada bagian belakangnya kantgor MKomando Distrikl Militer (Kodim) yang semula adalah Pusat Pendidikan Administrasi dari Korps Keuangan Dam Bukit Barisan.

Sebelumnya Kodim berada di bagian depan Perguruan Immanuel sekarang, Jalan Imam Bonjol – Jalan Jenderal Soeprapto–Jalan Cut Nyak Dhien.

Sedangkan Pusat Pendidikan Administrasi dari Korps Keuangan Dam Bukit Barisan sebelumnya menempati gedung yang kemudian menjadi Sekolah Hakim dan Jaksa (SHD), Jalan Imam Bonjol dan kini menjadi bagian lapangan parkir dari Hotel Danau Toba International (HDTI).

Pada areal bangunan benteng mau pun Lapangan Benteng, jelas merupakan kompleks militer peninggalan Belanda, tidak terkecuali di tapak tanah gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DRD) Sumatera Utara, dulunya merupakan asrama prajurit dan beberapa rumah gedung di sebelah kirinya, dihuni perwira komandannya.

Begitu juga dengan barisan rumah toko (Ruko) di Jalan Raden Saleh, sebelumnya merupakan bangunan rumah terbuat dari kayu/papan, di kiri/kanan dan depan bangunan dikelilingi halaman yang luas. Bangunan rumah tersebut, merupakan hunian perwira Kodam Bukit Barisan.

Terdapat ruas jalan dari Jalan Raden Saleh menuju ke ruas Jalan Ahmad Yani VII, sebelumnya Jalan Kebudayaan, yakni Jalan Mayor yang merupakan jenjang kepangkatan disandang Tjong A Fie warga turunan Tionghoa yang dipercaya Belanda menjadi pimpinan etnisnya. Jenjang kepangkatan Tjong A Fie bermula dengan Jalan Letnan (sekarang Jalan Bandung) di kawasan Pecinan (China Town) dan Jalan Kapten, berganti nama men-jadi Jalan Pandu dan terakhir Jalan Hj. Ani Idrus.

Dipercaya, pemerintahan Hindia Belanda dengan andalan kekuatan militer, terpusat di seputar Jalan Diponegoro, sebelumnya bernama Jalan Yogya dan sewaktu za-man Belanda dinamakan “Manggaland Straat” – karena di sepanjang jalan tersebut tumbuh subur dan berbuah mangga. Kemudian Jalan Imam Bonjol, dulunya Jalan Jakarta.

Di seberang jalan bangunan benteng arah ke Petisah, dihubungkan dengan jembatan lengkung yang unik dan khas, memasuki Jalan Gatot Subroto dan persimpangan Jalan S. Parman, dulunya terdapat pasar kecil yang dinamakan “Pajak Bundar”, karena bentuknya memang bundar dan kini menjadi taman bunga dan air mancur serta dihiasi patung Guru Patimpus sebagai pendiri “Kampung Medan” yang kelak menjadi cikal bakal ibukota Provinsi Sumatera Utara ini sebagai kota metropolitan!.
Posted by Pw PII Sumut on 10.10 in     1 comment »
Peluang untuk menjadi Raja Sisingamangaraja XIII, penguasa tanah Batak, Sumut, masih tetap terbuka setelah puluhan tahun mengalami kekosongan. Raja Sisingamangaraja XII tewas tertembak dalam pertempuran melawan tentara kolonial Belanda di Dairi pada awal abad XX. Pahlawan legendaris dari Toba itu tanpa sengaja melanggar pantangannya sendiri, kepercikan darah anak perempuan nya, Lopian, yang tertembak pasukan marsose Belanda, pimpinan Kapten Christoffel. Lopian, anak kesayangan baginda, merupakan srikandi yang terus mendampingi ayahnya bertempur melawan Belanda. Kapten Christoffel menyerukan pada baginda untuk menyerah, tapi Sisingamangaraja memilih untuk mati. Lopian, gadis remaja yang pemberani itu ternyata hanya mendapat luka ringan. Tapi pasukan marsose bertindak keji. Setelah tertawan, gadis yang gagah berani itu kemudian dibunuh dan mayatnya dilemparkan ke Sungai Pancinoran di kaki gunung Batu Gajah. Sejak peristiwa tragis itu posisi Raja Sisingamangaraja tidak pernah terisi lagi.


Jhoni Sinambela, salah seorang tokoh Batak yang satu marga dengan Sisingamangaraja ketika dihubungi ANTARA baru-baru ini mengisyaratkan, untuk ditabalkan menjadi Raja Sisingamangaraja XIII bukanlah kerja yang gampang. Para pengikut tokoh legendaris itu menuntut ciri-ciri khusus yang menjadi tanda khas bagi pemangku jabatan penguasa tanah Batak tersebut. “Ciri khas itu berupa lidah berbulu,” katanya sambil menjulurkan lidahnya. Menurut dia, jika ciri khas itu tidak ada, jangan mimpi bakal jadi penguasa tanah Batak.

Secara tersembunyi banyak oknum yang ingin kedudukan yang bergengsi itu, walau pun harus membayar mahal. Namun tanpa ciri khas adalah mustahil untuk dapat meraihnya. Djohan Samosir yang berasal dari Tanjung Balai dan pernah bergaul dengan para pengikut Raja Sisingamangaraja, ketika dihubungi secara terpisah mengungkapkan, banyak pengikut Sisingamangaraja yang bermukim di sekitar kawasan air terjun Sampuran Harimau di Kabupaten Toba Samosir. Rumah-rumah pemukiman mereka ditandai dengan semacam pengibaran bendera putih. Air terjun itu sendiri sudah puluhan tahun terakhir ini lenyap karena dimanfaatkan untuk PLTA Asahan. Tenaga listrik dari PLTA ini sebagian besar dimanfaatkan untuk pabrik peleburan aluminium PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Asahan.

Baik Sinambela mau pun Samosir tidak mempersoalkan angka 13 yang oleh segelintir orang dianggap sebagai angka sial. “Hal itu tidak betul, karena untuk pelanjut generasi, nomor urut itu tetap berlaku. Angka sial itu hanya penilaian segelintir orang saja,” kata Sinambela sambil mengembangkan kelima jari tangannya dan menggoyang-goyangkan tangannya ke kiri dan kanan. Samosir mengungkapkan, jika angka 13 itu sial, bagaimana dengan bayi yang lahir pada tanggal 13. Ia geleng-geleng kepala sebagai pernyataan tidak setuju mengenai pandangan yang menyimpang itu.

Berdasarkan cerita-cerita sejarah, Raja Diraja Tanah Batak yang bergelar Sisingamangaraja sebelum jatuh ke tangan marga Sinambela, terlebih dulu untuk satu generasi di tangan seorang bermarga Simanulang. Sedangkan sebelumnya untuk 8 generasi berada di tangan garis lurus dari Tuan Serba Dibanua, Sori Mangaraja dan seterusnya. Untuk masa sebelumnya di zaman yang silam, tidak diketahui sama sekali. Nama Sisingamangaraja punya makna tersendiri. “Si” bukan sama nilainya dengan si polan, si anu tapi berarti poros, pusat atau inti. “Singa” juga bukan binatang buas asal Afrika, namun berarti konstruksi, kerangka atau bagan. “Manga” berarti maha, agung atau besar. Sedangkan makna “Raja” yakni kemampuan dan kewibawaan. Jadi Sisingamangaraja berarti,” Tampuk kewibawaan agung dari konstruksi tata peradatan TanahBatak”.

Raja Sisingamangaraja sendiri bukanlah orang Batak yang utuh. Ayahnya Ompu Raja Bona Ni Onan beristerikan adik Raja Uti Mutiraja, penguasa yang bersinggasana di Lambri, Aceh. Adik raja Aceh ini kemudian disapa dengan Si Boru Pasaribu. Ini bermakna diporoskan ke dalam marga Pasaribu. Sebaliknya ibu kandung Raja Uti ini berdasarkan cerita-cerita yang masih perlu ditelusuri kebenarannya adalah bangsawan Jawa yang diprakirakan kerabat dari pendiri Kerajaan Majapahit.

Dari perkawinan Ompu Raja dengan adik Raja Aceh ini lahirlah Raja Mahuta yang kemudian menjadi Raja Sisingamangaraja I. Berdasarkan tarombo (silsilah) ini, Raja Aceh mengakui kekuasaan Raja Sisingamangaraja yang untuk pertama kali menggunakan angka Romawi sampai ke-XII Bukti dari pengakuan ini, Tanah Batak tidak pernah diperangi pasukan Aceh dan bahkan keduanya bersatu dalam perang menghadapi musuh bersama. Tanda keakraban ini ditandai dengan diserahkan cap Sisingamangaraja yang satu bersiku 12 dan satu lagi bersiku 11 dari Raja Aceh. Cap itu bertuliskan huruf Batak di tengah dan huruf Arab di sekelilingnya.

Peluang untuk menjadi Sisingamangaraja XIII masih tetap terbuka bagi siapa saja terutama warga Batak. Akan tetapi ciri khas berupa “lidah berbulu”, kemungkinan hanya turunan Sisingamangaraja yang memiliki keunggulan tersebut. Sedangkan “piso gajah dompak” yang menjadi senjata baginda, pada masa lalu hanya baginda yang dianggap keramat yang mampu mencabutnya. Tapi kini banyak orang yang mampu mengakalinya hingga tercabut.

Sumber : Antara Sumut
Posted by Pw PII Sumut on 09.24 in     No comments »