13 Agustus 2012

Salah satu surat dalam al-Quran adalah ABASA, artinya bermuka masam. Ayat pembukaannya adalah sebagai berikut:
1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, 2. karena telah datang seorang buta kepadanya. 3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). 4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?…
Kata ABASA, yang berarti BERMUKA MASAM, menjadi nama dari keseluruhan surat ini. Dalam ilmu al-Quran,  nama surat adalah sesuatu yang ditentukan langsungoleh Alloh, bukan hasil ijtihad nabi ataupun sahabat. Sehingga, kita bisa memperkirakan, pasti ada pelajaran penting yang bisa kita ambil dari istilah atau peristiwa yang terkait dengan ABASA (Bermuka Masam) itu.  Dan karena surat ABASA termasuk Makiyyah, maka pelajaran yang kita ambil lebih terkait dengan pengembangan persepsi / mindset (aqidah) dan berperilaku dalam keseharian (Akhlaq).
Salah satu pelajaran itu adalah sebagai berikut:
1. Hakikat Timbangan / Tolak ukur / Paradigma / Barometer yang Mutlak
Sebab turunnya ayat di atas, saat rosul sedang menyampaikan islam di hadapan pimpinan elit kaum qurisy,  tiba-tiba datanglah seorang buta, dan bertanya, “Ya rosul, ajari aku dari sebagian yang engkau telah diajari Alloh!”. Nabi tidak menjawab karena beliau sedang sibuk menghadapi kaum elit quraisy. Nabi bermuka masam dan berpaling dari orang buta itu. Dan karenanya, nabi ditegur Alloh SWT.
Berdasarkan keterangan di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwatimbangan / tolak ukur / paradigma / Barometer yang hakikat, datangnya dari Alloh SWT, bukan hasil ijtihad manusia, atau nabi sekalipun. Hal ini sangatlah penting terutama dalam menentukan sikap / prioritas yang perlu kita ambil.
Berdasarkan ukuran logika biasa, sikap nabi yang memprioritaskan kaum elit Quraisy dibandingkan orang buta sangatlah dimaklumi. Karena jika kaum elit tersebut berhasil masuk Islam, maka akan berdampak signifikan untuk kesuksesan dakwah di masa depan.  Ternyata, Alloh berkata lain. Alloh menegur nabi agar lebih memperhatikan orang buta yang memiliki totalitas hidup buat agama dibanding kaum elit tersebut. Kenapa?, karena yang menjadi barometer Alloh bukanlah strata sosial, namun kualitas komitmen diri terhadap dakwah.
Sebagai manusia kita diberikan karunia berupa akal yang bisa digunakan untuk ijtihad. Namun, jika berhadapan dengan wahyu ilahi, maka akal itu harus tunduk kepadanya. Artinya, tidak ada ijtihad ditempat yang sudah ada dalil (nash)-nya. 
#2. Urgensi Teguran dalam Pendidikan
Pelajaran kedua yang bisa kita ambil pelajaran adalah, teguran merupakan sarana pembinaan untuk menjadi lebih baik. Selain ayat diatas, dalam ayat lain Alloh SWT menegur Nabi Muhammad untuk beberapa perkara. Alloh menegur nabi, saat beliau tidak akan makan madu demi menyenangkan istrinya (QS Attahrim) dan Alloh menegur nabi saat beliau mengizinkan orang munafiq tidak ikut perang (QS Attaubah).
Secara logika, manusia terbaik saja ditegur Alloh dan disampaikan ke seluruh dunia sepanjang masa, apalagi kita.  Jadi, akan menjadi masalah, jika kita tidak memiliki kesiapan menerima teguran apalagi teguran yang datangnya dari Alloh SWT dan Nabi.
#3. Menegur Bukan Untuk Mengadili
Teguran yang disampaikan Alloh dalam ayat diatas sangatlah tegas, namun disampaikan dengan indah dan penuh kelembutan. Tidak bersifat mengadili dan mempermalukan. Di awal ayat, Alloh menggunakan orang ketiga untuk menyatakan bermuka masam, “Dia (Muhammad) bermuka masam”, bukan menggunakan kata KAMU. Baru di ayat ketiga Alloh menggunakan kata KAMU(Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya). Begitupula saat Alloh menegur dalam ayat lain, DIA menggunakan kalimat WAHAI Nabi, bukan kalimat langsung, KAMU.
Pelajaran yang bisa kita ambil, saat menegur orang, awalilah dengan panggilan yang baik, agar orang yang ditegur mau menerima teguran kita.
Posted by Pii Sumatera Utara on 07.03   No comments »

0 komentar :